Oto-Biografi

Menurut almarhumah ibuku, saya lahir di Garut, Jawa Barat, Indonesia pada hari Minggu malam tanggal 29 Juni 1985. Namun ada yang janggal, kalau saya lihat di kalender tanggal 29 Juni 1985 bukanlah hari Minggu namun hari Sabtu. Meskipun begitu, saya meyakinkan diri bahwa saya lahir pada tanggal 29 sebagaimana tercantum dalam akta kelahiran. 

Lahir sebagai anak cikal dari pasangan almarhumah Dedeh Hamidah dan Aaf Saepudin. Dari ayah dan ibuku ini saya mendapatkan tiga (3) orang adik dan semuanya perempuan, yaitu Wini Siti Aisyah, Resta Sela Nova, dan Resti Sela Novi (Resta dan Resti adalah anak kembar). 

Nama angga kusuma wijaya diberikan oleh kakekku (orang tua dari ibu), H. Mahmud Sobandi bin Muhammad Kaafi. Semenjak itu sampai sekarang orang-orang akrab memanggilku dengan nama panggilan angga.

Adapun abu raksa adalah nama kebanggaanku, yang memiliki arti "bapak dari raksa". Untuk selanjutnya di tulisan ini, saya akan menyebut diri ini dengan nama " Abu Raksa".

Itulah pengenalan awal mengenai identitas umum. Selanjutnya di bawah, akan penulis coba gambarkan biografi singkat. Semoga bisa memberikan gambaran bagi para pihak yang ingin mengetahui perjalanan hidupku.


Masa Kecil

Abu Raksa besar di lingkungan keluarga sederhana dan tinggal di sebuah perkampungan. Tepatnya kp. Sukadana RT: 01 RW: 22 kelurahan Kota Kulon Kecamatan Garut Kota kabupaten Garut.  Di lingkungan tersebut rumah keluarga kami bertetangga dengan para kerabat, putera puterinya H. Mahmud Sobandi.

Abu Raksa kecil banyak bermain dengan anak-anak dari paman dan bibinya. Abu Raksa jarang bermain dengan lingkungan luar, apalagi yang belum dikenal lama. Sifat pemalu masih tampak di masa kecilku.

Setiap magrib, kami para anak cucunya abah haji (panggilan saya kepada kakek) mengaji di mesjid kecil yang didirikan oleh abah haji. Dari didikan kakek saya ini, saya belajar ilmu-ilmu agama. Khususnya ilmu fiqih.

Semoga Allah SWT mencurahkan ampunan kepada almarhum Abah haji.  Semoga tiap shalat, bacaan quran, shalawat, dan kegiatan amal ibadah lainnya yang saya lakukan dapat sampai pula pahalanya kepada abah haji. Karena berkat didikan beliau, si bodoh ini sedikit demi sedikit mengerti akan ilmu fiqih.

Ketekunan mengaji di waktu kecil kadang kala bukan suatu hal yang secara sukarela saya lakukan. Almarhumah ibu kerap menjadi faktor tersebut. Disaat datang waktu shalat dan mengaji, almarhumah senantiasa membujuk bahkan memaksa saya untuk shalat dan mengaji. Semoga kesaksian saya ini menjadi ladang amal ibadah bagi almarhumah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan mencintainya sebagaimana almarhumah menyintai dan menyayangiku di saat hidupnya.

Dengan penghasilan ayahku sebagai penjahit di salah satu konveksi di bandung saat itu, kami sekeluarga hidup penuh sederhana. Adakalanya satu telur mesti kami potong-potong untuk dimakan dengan adik-adikku. 

Dari usia 6 sampai 12 tahun, saya mengenyam pendidikan sekolah dasar di SDN Ciledug 1. Sekolah ini terletak di jalan cildeug. 

Tiap hari pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Banyak suka duka disaat mengenang masa kecil ini. Di SD ini, semenjak kelas 3 sampai kelas 6, alhamdulillah selalu mendapat ranking pertama. Setiap dapat ranking pertama, saya suka berlari ke rumah kakek dan mengatakan kabar gembira tersebut. Kakek selalu memberikan hadiah atas prestasi tersebut, waktu itu hadiah yang paling senang rasanya adalah diberi ayam peliharaan, hehe.

Masa Remaja

Lulus SD dengan NEM tertinggi di SDku itu menjadi alasan saya pun bisa diterima di SMP favorit, yaitu SMPN 1 Garut. 

Memasuki sekolah yang berbeda, begitupun dengan pendidikan agamaku. Semenjak SMP, saya mulai mengaji di pondok pesantren Galumpit milik pamannya nenekku (dari ayah), K. H. Ubaidillah bin Gozali. Tidak seperti santri lainnya yang mondok di sana, saya pulang ke rumah selepas ngaji, atau orang bilang santri kalong.

Oleh aki haji (panggilan saya ke guru, k.h. Ubaidillah bin Gozhali) saya mendapat pengajaran ilmu dari 3 kitab. Kitab safinatun najah, tijanud darori, dan sulamun taufik diajarkan secara berulang-ulang. Berbeda dengan pesantren lain yang mengajarkan kitab-kitab nahwu shorof di awal pendidikan. 

Sempat terbesit dalam benak pertanyaan, mengapa saya hanya terus menerus diajarkan 3 kitab tersebut. Seolah mengerti apa yang mengganjal dalam hati, aki haji berkata padaku bahwasanya 3 fan (cabang) ilmu yang wajib dipelajari yakni ilmu tauhid, fikih, dan tasawuf. Untuk itu diajarkan dahulu di awal pendidikan dengan maksud membekali diri dengan hal-hal yang harus dimiliki kita sebagai bekal ibadat. Sehingga tatkala kita putus pendidikan dikarenakan suatu hal, kita sudah memahami pokok ilmu untuk beribadat kepada Allah SWT.
"Jangan tergiur dengan ilmu-ilmu yang tidak pasti-pasti" (Pesan K.H. Ubaidillah bin Gozhali)

Selepas mengenyam pendidikan di SMPN 1 Garut selama 3 tahun, pendidikan formal dilanjut ke MAN 1 Garut. Sempat banyak pertanyaan mengenai pilihan sekolah tersebut. Teman-teman sekolah dari SMPN 1 Garut pada waktu itu banyak yang masuk ke SMA 1 Garut (Sekarang SMA 1 Tarogong) yang bisa dibilang sekolah favorit di Garut. Meski NEM mencukupi untuk masuk ke sekolah favorit, saya lebih memilih ke Madratsah Aliyah Negeri 1 Garut mengikuti jejak langkah ibunda. Sehingga cocoklah, SD, SMP, dan SMA di sekolah dimana ibu pernah mengenyam pendidikan di tempat itu.

Di masa SMA ini, Abu Raksa mulai berguru agama di Pondok Pesantren Darussalam, Sirahsitu Garut Kota pimpinan Ajengan Sukmana dan dilanjut oleh Ceng Odang sepeninggal almarhum ajengan yang tidak lama setelah beberapa bulan Abu Raksa mulai mengaji di sana. Di Darussalam ini, Abu Raksa mulai menerima ilmu dari berbagai kitab dari berbagai cabang ilmu agama.

Pada saat kelas 2 SMA sekira usia 16 tahun, Abu Raksa mengalami hal tersedih. Dimana ibunda tersayang ditakdirkan berpulang ke rahmattullah. Semenjak itu, Abu Raksa tinggal menyendiri di rumah. Ayahanda bekerja di kota Serang Banten, membantu paman (almarhum Tatang) yang membuka usaha konveksi.